oleh

Budaya Masyarakat Bekasi, Dari Munggahan, Nyorog Hingga Pasar Balikan

PILARREPUBLIK.COM – Memasuki awal Ramadhan selalu ada yang unik, ada sebuah kekhasan yang terjadi dan menjadi semacam tradisi bagi sebagian besar masyarakat Betawi yang tinggal di Jabodetabek termasuk orang Bekasi. Semua orang mulai disibukan untuk mapag datangnya bulan suci Ramadhan dengan berbagai aktivitas. Sebagian kaum ibu sibuk pergi belanja ke pasar tradisional untuk membeli berbagai keperluan makan sahur puasa hari pertama. Hampir semua pasar tradisional dipadati oleh orang yang belanja keperluan menyambut munggahan. Munggahan itu sendiri entah sejak kapan terjadinya, namun telah menjadi sebuah tradisi yang melekat dan tak lekang dimakan waktu serta peradaban jaman yang begitu dahsyat. Bagi masyarakat Betawi meskipun kadang dibilang “norak” atau “kampungan”, melestarikan budaya warisan leluhur adalah sah-sah saja dan sebagai bukti nyata bahwa nenek moyang kita begitu sederhana dan bersahaja namun penuh dengan kepatuhan dan disiplin yang tinggi, dalam bahasa masyarakat modern mungkin disebut integritas.

Menurut budayawan Bekasi, Aki Maja, Pasar tradsional dan kini berubah menjadi pasar modern tetap diserbu orang untuk berbelaja keperluan ngolah atau memasak. Jika di pasar tradisional masih dapat kita jumpai berbagai macam bahan lauk pauk jaman bareto, semacam ikan japuh, ikan perek, ikan sepat siem, ikan tembang, ikan teri jambrong, hingga gabus kering asin. Sedangkan berbagai jenis lalapan mulai dari lengkiyo, daun mede, daun popohan hingga daun labuh laris manis diborong warga. Bahkan ada juga yang ngongkon beli daging sapi, daging kebo atau daging ayam kampung. Sebagian lagi sibuk beli daun ketupat buat disandingin dengan sayur pepaya parut disantenin. Kalau sudah makan ini, mertua lewat dijamin kaga keliatan.

Demikian munggahan terus bergulir, terus berakrobat ditengah hiruk pikuknya peradaban modern yang justru kurang jelas juntrungannya. Dan sebagain anak serta remaja sekarang tidak mampu lagi memahami budaya para orangtuanya, bahkan tidak sedikit yang memandang bahwa itu merupakan budaya norak dan malu-maluin. Mungkin mereka juga berfikir budaya munggahan bikin repot.

“Selain munggahan, ada satu kegiatan lagi yaitu pasar balikan yang biasanya terjadi satu hari sebelum hari raya. Kegiatan belanja untuk mengolah makanan serta lauk pauk yang akan dibagikan kepada tetangga, sanak keluarga dalam kegiatan nyorog. Setelah sholat ied di pagi hari barulah dilanjutkan dengan kegiatan silaturahim sungkeman dirasa kurang afdol kalo orangnya kaga ketemu alias dateng. Orangnya kudu ngejogrog. Karena pada hakikatnya silaturahim bukanlah sekedar oleh-oleh atau buah tangan berupa parsel atau angpou yang sampai tujuan. Yang lebih memiliki nilai adalah ketika orang perorangnya bertemu, bertegur sapa, berjabat tangan. Itulah hakikatnya silaturahim. Namun apa boleh dikata budaya modern telah mengikis dan melunturkan itu semua. Namun bagi kita yang masih memiliki kepedulian akan besarnya makna, seyogyanyan silaturahim, budaya munggah, budaya nyorog masih tetap dipertahankan tentu saja dengan sentuhan yang lebih modern,” Jelas Aki Maja.

Hal senada juga dikatakan budayawan Bekasi, Kong Haji Usman, menurutnya, munggahan merupakan tradisi masyarakat Bekasi atau Betawi yang dilakukan setiap tahun dalam menyambut datangnya bulan puasa atau bulan suci ramadhan,

Selain dengan menyorog (nganterin makanan ke yang lebih tua) tradisi orang Bekasi dalam meyambut bulan suci Ramadhan juga biasanya ziarah ke makam keluarganya untuk berdoa ziarah ke makam yang telah meninggal. Tidak hana berdoa, biasanya peziarah juga melakukan bersih-bersih, merawat makam.

Sepulang dari ziarah makam, biasanya orang Bekasi mempersiapkan masakan, makanan untuk awal puasa, atau saling berbagi kepada kerabat, saudara terutama kepada yang lebih tua.

“Tradisi seperti ini penting dilestarikan dalam menjaga nilai-nilai kerarifan lokal ditengah arus modernisasi yg kian deras,”. Pungkas Kong Usman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.