oleh

Kriminolog sebagai Manajer Pengendali Dukungan Forensik Bagi Pengungkapan Kejahatan: Prospek dan Hambatan

Kriminolog sebagai Manajer Pengendali Dukungan Forensik Bagi Pengungkapan Kejahatan: Prospek dan Hambatan

Peran Kriminolog Forensik dalam Kasus GA

( Oleh: Bilqis Kusumawardhani Anugrahputri )

       Dewasa ini fenomena kejahatan kian merajalela, baik yang terjadi di dunia maya maupun dunia nyata. Namun, sangat disayangkan bahwa sebagian besar masyarakat kurang memahami definisi kejahatan sebagai peristiwa yang paling berbahaya dari semua jenis perilaku menyimpang. Terdapat beberapa alasan yang mungkin mendukung kurangnya pemahaman masyarakat dalam pendefinisian tentang kejahatan, seperti istilah plagiarisme hingga penipuan, penipuan sampai penghianatan, maupun pembunuhan hingga pembunuhan massal. Selain itu, asumsi tradisional mengenai kejahatan merupakan perbuatan dosa lebih menonjol daripada kejahatan harus mendapatkan hukuman (Wikstriiom & Sampson, 2006, p.8). Meskipun terdapat banyak definisi kejahatan,  berdasarkan pendekatan legalistik kejahatan dapat dijelaskan sebagai suatu perbuatan yang melanggar hukum (Schram & Tibbetts, 2020, p.3). Untuk membuktikan apakah peristiwa tersebut merupakan kejahatan atau bukan, para penegak hukum harus melengkapi berkas-berkas pendukung terlebih dahulu, seperti mengetahui identitas korban maupun pelaku, motif dari tindak kejahatan, dan dampak yang ditimbulkan. Selama proses pengungkapan peristiwa ini, kadang kala para penegak hukum memerlukan adanya pernyataan ahli, seperti ahli ilmu forensik.

Dalam lingkup yang lebih luas, ilmu forensik merupakan penerapan berbagai disiplin ilmu dalam hukum pidana dan perdata yang ditegakkan oleh lembaga kepolisian. Ilmu forensik merupakan istilah gabungan dari berbagai bidang ilmu yang membantu aparat penegak hukum dalam melakukan penyelidikan, seperti teknologi, sains, maupun bidang pengetahuan lainnya (Saferstein, 2014, p.4). Salah satu yang tergabung dalam ilmu forensik adalah kriminologi forensik. Istilah kriminologi pada umumnya digunakan untuk menjelaskan kejahatan dan perilaku kriminal dari sudut pandang sosial (Fisher, Tilstone, & Woytowicz, 2009, p.3). Sedangkan, kriminologi forensik sendiri menurut (Van Der Hoven, 2006; Petherick, Turvey, & Ferguson, 2009, p.20) merupakan tindakan yang dilakukan oleh kriminolog untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan bukti dalam kepentingan persidangan objektif pada proses peradilan. Dalam hal ini, peran kriminolog forensik berfokus pada penggunaan kekerasan yang dilakukan oleh polisi, penilaian (risiko dan  ancaman) terhadap suatu tindak kejahatan, keamanan, profil kriminal, dan pemeriksaan bukti fisik (misal, TKP) (Petherick, Turvey, & Ferguson, 2009, p.20).

Kriminologi forensik memiliki ciri khusus, yaitu hasil temuan kriminolog tersebut tidak hanya memiliki hubungan dengan metode ilmiah, tetapi juga dirancang agar memiliki kualitas dan kepastian yang memadai, sehingga dapat digunakan dalam penyelidikan formal hingga di dalam ruang sidang (Petherick, Turvey, & Ferguson, 2009, p.21). Namun, selama proses pembuktian tindak kejahatan tersebut diperlukan kontribusi dari beberapa ahli untuk memeriksa secara kritis dan objektif untuk (Petherick, Turvey, & Ferguson, 2009, p.20). Misalnya, seperti kasus yang menimpa GA, menurut pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus, setelah gelar perkara, diketahui bahwa GA mengakui bahwa dirinya yang berada di dalam video syur berdurasi 19 detik, sehingga status GA naik menjadi tersangka (Riandi, 2020).

Berdasarkan penuturan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus yang mengatakan bahwa GA dijadikan sebagai tersangka dianggap telah melanggar Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Pornografi yang menjelaskan bahwa adanya larangan untuk memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat : a. Persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang; b. Kekerasan seksual; c. Masturbasi atau onani; d. Ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; e. Alat kelamin; atau f. Pornografi anak (Sitompul, 2018). Tetapi, di dalam penjelasan Undang-Undang tersebut terdapat pengecualian, yaitu “membuat” apabila dalam konteks untuk dirinya sendiri dan untuk kepentingan pribadi, maka tidak termasuk ke dalam ruang lingkup “membuat” yang tertera di dalam Pasal 4 Undang-Undang pornografi.  Sehingga, GA seharusnya berstatus korban, bukan tersangka dalam kasus ini.

Dalam usaha pembuktian kasus GA, kriminolog forensik dapat berkontribusi. Mengapa kriminologi forensik? Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kriminologi forensik merupakan studi kriminologi  terapan yang melibatkan berbagai bidang studi ilmiah tentang kejahatan dan penjahat, dalam hal menangani pernyataan investigasi dan hukum. Terlibatnya kriminolog forensik di dalam kasus ini terjadi ketika berkas yang dikumpulkan oleh penyidik berstatus P-21 atau lengkap, kemudian dilimpahkan kepada penyidik (Rachmadsyah, 2010).  Guna mendapatkan bukti yang lebih akurat, penyidik bersama kriminolog forensik bekerjasama, khususnya dalam menghasilkan pengetahuan kriminologi untuk membantu jalannya pengadilan dalam memahami bukti yang ada. Selain membutuhkan pemahaman tentang bagaimana sistem hukum tersebut (Undang-Undang Pornografi), kriminolog forensik juga harus memahami tentang kasus hukum yang relevan dengan isu yang sedang dihadapi (Gotham & Kennedy, 2019, p.241).

Kriminolog forensik selama proses peradilan pidana akan menangani bukti yang bisa membantu dalam mengidentifikasi dan memprediksi dari sudut pandang sosiologis apakah GA bisa ditetapkan tersangka atau sebagai korban. Kontribusi kriminolog forensik dalam kasus GA ini bertujuan untuk merekam ulang peristiwa yang dikategorikan sebagai kejahatan tersebut, yaitu dengan menganalisis bukti fisik, seperti video berdurasi 19 detik, riwayat percakapan, bukti pembayaran hotel, dan bukti lainnya (Gotham & Kennedy, 2019, p.5). Dalam proses pembuktian kasus ini, kriminolog forensik juga akan melakukan pengujian data riwayat percakapan maupun bukti lainnya yang memerlukan pengujian melalui laboratorium. Selain itu, kriminolog forensik juga dapat berkontribusi untuk bersaksi selama proses hukuman, untuk menjelaskan kondisi GA pada kasus yang menimpa dirinya (Gotham & Kennedy, 2019, p.5).

Meskipun terlihat memiliki banyak kontribusi, dalam pengungkapan keadilan pada kasus ini, kriminologi forensik memiliki keterbatasan. Sehingga, memerlukan kontribusi dari bidang studi lainnya yang tergabung ke dalam ilmu forensik, misal cyber forensik. Pada kasus GA cyber forensik bersama kriminologi forensik dapat bekerjasama dalam mengungkap tuduhan yang mengatakan bahwa GA merupakan pelaku penyebaran video berdurasi 19 detik tersebut. Dengan bantuan cyber forensik, maka akan ada bukti tambahan yang dapat menguatkan bukti-bukti sebelumnya. Selain itu, kriminologi forensik juga dapat meminta bantuan dari linguistik forensik untuk menganalisis semua ucapan, baik yang diucapkan oleh GA maupun saksi lainnya.

Namun, kontribusi dari berbagai sub bidang ilmu ini pun tidak bisa berjalan dengan mulus, karena terdapat kemungkinan munculnya benturan dari para ahli yang berkontribusi. Seperti, adanya perbedaan bukti yang didapat oleh penyelidik dengan bukti-bukti yang didapat oleh para ahli forensik. Sehingga, hal tersebut juga dapat menghambat proses peradilan yang menimpa GA.

 Kesimpulan

Apabila dilihat dari sudut pandang sanksi sosial, GA dapat ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini. Namun, apabila dilihat dari sudut pandang kriminologi forensik dakwaan yang dijatuhkan kepada GA bisa saja berubah menjadi korban. Perubahan tersebut diperoleh dari proses yang cukup panjang, yaitu dimulai saat kriminologi forensik merekam ulang peristiwa yang dikategorikan sebagai kejahatan tersebut, seperti menganalisis bukti fisik, seperti video berdurasi 19 detik, riwayat percakapan, bukti pembayaran hotel, dan bukti lainnya. Selanjutnya, bukti yang ada di analisis lebih mendalam oleh ahli dari bidang studi lain yang tergabung di dalam ilmu forensik, seperti cyber forensik dan linguistik forensik. Setelah mendapatkan data yang cukup, maka kriminolog forensik dan ahli dari bidang studi lainnya, dapat menjadi saksi ahli di dalam persidangan.

Penulis :

Nama                          : Bilqis Kusumawardhani Anugrahputri

NPM                           :1806143516

Universitas                 : Universitas Indonesia (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik)

Mata Kuliah                : Kriminologi Forensik

Dosen Pengampu      : Prof. Drs. Adrianus Eliasta Meliala, M.Si., M.Sc, Ph.D.

Tema Besar                : Kriminolog sebagai Manajer Pengendali Dukungan Forensik Bagi Pengungkapan Kejahatan: Prospek dan Hambatan

Referensi

Buku

Fisher, B. A., Tilstone, W., & Woytowicz, C. (2009). Introduction to Criminalistics The Foundation of Forensic Science. USA: Elsevier Academic Press.

Gotham, K. F., & Kennedy, D. B. (2019). Practicing forensic criminology. Academic Press.

Saferstein, R. (2014). Criminalistics: An Introduction to Forensic Science (11 ed.). US: Pearson Education.

Schram, P. J., & Tibbetts, S. G. (2020). Introduction to criminology: Why do they do it? (3 ed.). SAGE Publications, Incorporated.

Wikström, P. O. H., & Sampson, R. J. (Eds.). (2006). The explanation of crime: context, mechanisms and development. Cambridge University Press.

Berita Online

Rachmadsyah, S. (2010, Juli 20). P-18, P-19, P-21, dan lain-lain . Retrieved Januari 3, 2021, from HUKUMONLINE.COM: https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl5170/p-18-19-21-dll/

Riandi, A. P. (2020, November 17). Berstatus Tersangka Video Syur, Apakah Gisel Anastasia Ditahan? Retrieved Januari 3, 2021, from Kompas.com: https://megapolitan.kompas.com/read/2020/12/30/08274881/berstatus-tersangka-video-syur-apakah-gisel-anastasia-ditahan?page=2

Sitompul, J. (2018, Agustus 29). Sanksi bagi Pembuat dan Penyebar Konten Pornografi. Retrieved Januari 3, 2021, from HukumOnline.com: https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt540b73ac32706/sanksi-bagi-pembuat-dan-penyebar-konten-pornografi/

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.